Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Dalam upaya memperdalam pemahaman siswa terhadap sejarah lokal sekaligus mengintegrasikan pembelajaran lintas mata pelajaran, para siswa mengikuti kegiatan edukatif melalui kunjungan pembelajaran ke Diorama Arsip Yogyakarta dan Kraton Yogyakarta.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dibagi ke dalam tiga sesi, yaitu sesi pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 7 April 2025 dengan peserta kelas XI-1, sesi kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 8 April 2025 dengan peserta kelas XI-2, dan sesi ketiga pada hari Kamis, 9 April 2025 dengan peserta kelas XI-3. Pembagian ini dilakukan agar setiap kelompok dapat mengikuti kegiatan secara optimal, terarah, dan kondusif. 

Menariknya, dalam kunjungan ini para peserta tidak menggunakan kendaraan sekolah atau pribadi, melainkan transportasi umum, Trans Jogja. Penggunaan transportasi umum ini bukan semata karena alasan logistik, tetapi juga memiliki nilai edukatif yang penting. Siswa diajak untuk mengenal dan merasakan langsung sistem transportasi publik di kotanya, serta dilatih untuk bertanggung jawab, mandiri, dan sadar akan pentingnya jenis transportasi yang ramah lingkungan. Selain itu, penggunaan transportasi umum juga mengajarkan siswa untuk lebih peduli terhadap pola hidup berkelanjutan dan memberikan pemahaman konkret tentang konsep mobilitas sosial dan ekonomi yang dapat dihubungkan dengan pembelajaran Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi.

Kemudian melalui kunjungan ini, siswa diajak untuk menyelami nilai-nilai budaya, memahami pentingnya identitas lokal, serta menyaksikan secara langsung bagaimana pengetahuan sejarah terhubung dengan disiplin ilmu lainnya. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata pelajaran Sejarah Indonesia, yang diintegrasikan secara tematik dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi.

Di balik dokumen-dokumen masa lalu dan ruang-ruang bersejarah yang sarat makna, para siswa tidak hanya belajar tentang peristiwa dan tokoh penting, tetapi juga memperoleh pengalaman reflektif mengenai pentingnya menghargai warisan budaya, berpikir kritis, serta memahami konteks kehidupan dalam perspektif yang lebih luas.

Lebih dari sekadar kunjungan, kegiatan ini menjadi media pembelajaran yang menyentuh rasa, logika, dan jiwa yang mendorong siswa menjadi pembelajar aktif yang berpikir lintas batas, peduli pada nilai budaya, dan memahami sejarah sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Penulis: Novenda Hemas Sahati